Sabtu, 10 April 2010 - 22:46:50 WIB
Sportivitas vs Anarkisme
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Opini - Dibaca: 5662 kali

Kerusuhan supporter sepak bola makin sering terjadi ditengah-tengah semangat untuk mengikuti liga sepakbola Indonesia. Perang antar supporter seolah tidak pernah bisa diantisipasi dan dicegah. Banyak hal yang bisa memicu terjadinya kerusuhan misalnya ketidakpuasan terhadap kepemimpinan wasit, ketidakpuasan terhadap prestasi tim dukungannya, adanya gesekan antar supporter, atau memang sudah ada dendam diantara para supporter itu sendiri. Apapun latar belakangnya, anarkisme supporter tidak bisa dibenarkan dan harus dicegah dan diantisipasi. Anarkisme sangat kontra-produktif terhadap prestasi sepakbola itu sendiri.

Prestasi yang berupa kemenangan dalam suatu kejuaraan mungkin menjadi impian dan tujuan dari setiap peserta kejuaraan. Segala daya dan dana serta taktik dan strategi dikerahkan untuk meraih kemenangan tersebut. Pertandingan demi pertandingan diperjuangan dengan tetesan keringat dan harus dimenangkan untuk menuju kemenangan tertinggi. Kemenangan sebagai Sang Juara.

Setiap prestasi tinggi biasanya tidak datang hanya dengan proses yang mudah dan sederhana, tetapi melalui proses yang panjang dan berat serta melalui persaingan yang ketat dan sengit. Proses inilah yang menggembleng mental sang calon juara dan menguji kekuatan kualitas para pesertanya. Jatuh bangun dalam urutan klasemen dan menang kalah dalam setiap pertandingan kiranya sudah menjadi kewajaran dan keharusan yang terjadi.

Prinsip dan keyakinan setiap tim akan sangat menentukan bagaimana kemenangan dan kekalahan dalam pertandingan itu akan dihadapi. Tim lebih percaya pada sportifitas ataukah pada anarki? Mungkin tidak ada tim yang percaya bahwa anarki akan menjadi jalan dan tangga yang tepat untuk meraih tingkat prestasi tertinggi. Namun anehnya cara ini, sering terjadi, baik itu anarki dalam lingkungan internal tim maupun dalam lingkungan eksternal tim. Anarki dalam lingkungan internal tim misalnya, karena sering mengalami kekalahan lantas tanpa “evaluasi” yang akurat dari “tim ahli” manajemen memecat begitu saja pelatih atau pemain, contoh lain misalnya tanpa criteria hasil rekomendasi “tim ahli”, manajemen asal beli saja pelatih atau pemain asing sehingga prestasinya tidak memuaskan, dan tanpa evaluasi yang jelas pelatih menyalahkan begitu saja kekalahan pada pemain, dan lain-lain. Anarki dari lingkungan eksternal tim dapat terjadi atau berasal dari wasit atau dari para supporter sepakbola itu sendiri. Anarkisme yang terjadi dari wasit dapat terjadi misalnya wasit melakukan kecurangan atau tidak adil dalam memimpin pertandingan. Contoh lainnya, wasit melakukan kesalahan fatal dalam memimpin pertandingan sehingga merugikan salah satu tim yang bertanding. Hal ini misalnya, wasit memberi hukuman pinalti pada tim ketika tidak ada pelanggaran berat yang memungkinkan hukuman pinalti harus dijatuhkan. Ketidakadilan wasit dapat memicu ketidakpuasan tim dan supporter yang selanjutnya bisa berakibat terjadinya anarkisme yang dilakukan oleh para supporter. Anarkisme yang paling nyata terjadi pada para supporter. Hal ini telah berulang kali terjadi. Anarkisme oleh para supporter ini misalnya, karena tidak puas dengan hasil pertandingan, supporter sering bersikap anarki terhadap wasit atau pemain lawan atau terhadap supporter pendukung tim lawan. Contoh lainnya karena tidak punya tiket, supporter main dobrak pintu stadion yang berujung pada terjadinya kerusuhan dan perang batu.

Di sisi lain, benarkah tim calon juara liga Indonesia lebih percaya pada sportifitas dari pada anarki? Setidaknya, menurut hemat penulis, sportifitas bisa menjadi jalan yang paling rasional dan adil menuju prestasi terbaik dalam setiap kejuaraan. Sportifitas pada dasarnya lebih menekankan pada kejujuran dan obyektifitas dalam menghadapi segala sesuatu. Sportifitas bisa diterapkan dalam segala aspek tim secara total dan menyeluruh. Sportifitas bisa diterapkan dalam melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dihadapi tim. Sportifitas bisa diterapkan dalam melihat profesionalitas pengurus tim dan manajemen tim. Sportifitas bisa diterapkan dalam memilih dan menseleksi pelatih dan pemain tim. Sportifitas bisa diterapkan dalam setiap evaluasi kemenangan dan kekalahan tim dalam setiap pertandingan.

Oleh karena sportifitas lebih menekankan pada kejujuran dan obyektifitas dalam melihat segala sesuatunya, maka dengan sportifitas kekuatan bisa dimaksimalkan, kelemahan bisa diperbaiki, peluang bisa dioptimalkan dan ancaman bisa disingkarkan. Sportifitas mungkin bisa menjadi tangga menuju eksistensi dan kemenangan sejati.

Meskipun sportifitas lebih mulia dibanding anarkisme, namun dalam realitas anarkisme lebih dikedepankan oleh beberapa oknum supporter. Keadaan ini tentu sangat memprihatinkan dan mengundang antipati masyarakat pada umumnya. Upaya-upaya telah ditempuh oleh Komisi Disiplin PSSI antara lain menjatuhkan hukuman dan denda. Hukuman bagi supporter pelaku kerusuhan dan anarkisme antara lain tidak boleh mendukung timnya yang bertanding di kandang lawan selama jangka waktu tertentu. Selain itu, Komdis PSSI juga menjatuhkan denda sejumlah uang kepada tim.

Namun demikian, berbagai denda dan hukuman itu ternyata belum memberi efek jera, bahkan mungkin juga belum mengena pada sasaran. Hal ini terbukti masih terjadinya kerusuhan pada supporter tim-tim lainnya. Oleh karena itu perlu kiranya ditempuh langkah-langkah yang lebih tegas untuk mengurangi dan menghilangkan terjadinya anarkisme supporter sepak bola tersebut. Hal ini, kiranya menjadi pekerjaan rumah PSSI dan pihak-pihak yang terkait demi memajukan persepakbolaan Indonesia.




    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)