Senin, 10 April 2010 - 22:46:50 WIB
Kisah dalam Buku Komplikasi
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 18668 kali

TUMOR MENJEPIT TOTAL SALURAN NAFAS

Seorang anak lelaki tiba-tiba sulit bernafas, wajahnya pucat, gemetar dan mengi. Ia diterbangkan dengan helicopter ke sebuah RS di Boston. Pemeriksaan sinar X memperlihatkan adanya massa besar memenuhi bagian tengah dada anak itu. Untuk memastikan, dilakukan pemeriksaan payaran CT.

Dalam gambar hitam putih, tampak massa sebesar bola sepak membungkus pembuluh utama ke jantung, mendorong jantung ke satu sisi, dan menekan nafas. Tumor itu menjepit total saluran nafas ke paru kanan, sehingga tak adanya udara masuk membuat paru kanan menguncup dan tampak abu-abu pada payaran CT. Sebagai gantinya, ruang paru kanan penuh dengan air akibat tumor itu. Selama ini anak itu hanya hidup dari paru kirinya, tetapi kini tumor itu pun hampir menekan seluruh jalan nafas ke paru kiri. Bahkan bunyi nafas anak itu mencicit tinggi dan keras. Dan …jiwa anak itu pun terancam.

Membaringkannya akan membuat tumor menutup jalan nafas yang tersisa. Begitu juga memberinya sedatif atau pembiusan. Jadi tak mungkin dilakukan pembedahan untuk mengangkat tumor. Dan tak mungkin pula dapat bertahan menunggu pengecilan tumor dengan kemoterapi. Waktu terus berjalan, jiwa anak itu…semakin terancam.

Pemasangan pipa nafas tanpa pembiusan dalam posisi anak duduk tegak, dengan menyorongkannya melewati bagian yang sempit, juga sulit dilakukan. Sementara pengaliran cairan yang memenuhi rongga dada dengan memasang kateter di dada kanan anak itu, dengan harapan tumor akan bergeser menjauhi paru kiri, juga dapat memperburuk keadaan. Kemungkinannya sama besar. Akhirnya diputuskan pilihan kedua : mengalirkan cairan melalui kateter di dada kanan anak itu.

Setelah semua siap, anestetik local disuntikan ke sela iganya, kemudian dibuat sayatan dalam dan mendorong masuk kateter karet sepanjang 40 cm ke dalam lubang sayatan tadi. Cairan berdarah mengalir dari pipa karet itu sekitar satu liter, dan untuk sejenak muncul kekhawatiran bahwa hal itu adalah tindakan yang buruk. Namun nyatanya, setelah selesai, tumor itu bergeser ke kanan dan jalan nafas ke paru kiri dan kanan terbuka. Semua bernafas lega.

Di kemudian hari,”Aku masih bertanya-tanya tentang pilihan kami yang lebih merupakan upaya COBA-COBA itu. Tak ada dukungan perencanaan seandainya sesuatu yang buruk terjadi. Dan menurut literature, pernah terjadi kasus yang mirip, ternyata tindakan yang paling aman adalah memasang pompa pintas jantung-paru seperti pada pembedahan jantung atau setidaknya mempersiapkan alat itu sebelum melakukan tindakan pertolongan. Tapi kami tidak menyesal, anak itu tertolong, itu yang penting. Sekarang anak itu menjalani kemoterapi. Hasil pemeriksaan cairan, tumor itu suatu limfoma. Ongkologisnya kemungkinan sembuh total lebih dari 70%.” (halaman:17-18).

“Kita memandang ilmu kedokteran sebagai pengetahuan dan upaya (tindakan) yang bertatanan. Nyatanya tidaklah demikian. Ilmu kedokteran adalah suatu ilmu yang tak sempurna, berisi pengetahuan yang senantiasa berubah, informasi yang tak pasti, dengan orang-orang yang sangat mudah berbuat salah, yang bekerja sama. Memang ada ilmu di belakang apa yang kami kerjakan, tetapi disana juga ada KEBIASAAN, NALURI tetapi terkadang juga ada COBA-COBA. Selalu saja ada kesenjangan antara apa yang kami ketahui dan apa yang ingin kami capai. Kesenjangan inilah yang mempersulit semua tindakan kami.” (Halaman 18).




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)