Senin, 10 April 2010 - 22:46:50 WIB
Menembus Batas Langit
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 406766 kali

Bagian Bab III dari buku TERPESONA DI SIDRATUL MUNTAHA, yang ditulis oleh Agus Mustofa

Etape pertama Rasulullah SAW dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha adalah perjalanan horizontal dari Mekkah ke Palestina. Perjalanan itu hanya ditempuh Nabi dalam waktu tidak sampai satu detik. Kenapa bisa secepat itu? Karena Nabi Muhammad, malaikat Jibril dan Buraq melesat dengan kecepatan cahaya 300.000 km/detik. Maka, jarak Mekkah-Palestina yang hanya sekitar 1.500 km itu pun tidak terlalu berarti.

Sesampai di masjidil Aqsha, Rasulullah SAW sempat melakukan sholat bersama malaikat Jibril, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke langit ke tujuh. Perjalanan berikutnya adalah sebuah perjalanan yang memiliki mekanisme berbeda dengan etape pertama.

Pada etape pertama, Rasulullah SAW melakukan perjalanan dengan badan wadag yang telah diubah menjadi badan cahaya. Akan tetapi sesampai di masjidil Aqsha badan Nabi telah berubah kembali menjadi badan material sebagaimana sebelumnya. Ini adalah etape teleportasi, sebagaimana digambarkan dalam berbagai film science-fiction. Akan tetapi, pada etape kedua beliau tidak lagi menggunakan mekanisme tersebut melainkan melakukan perjalanan dimensional.

Beliau bergerak dari dimensi 3 di langit pertama, menuju ke dimensi 4 di langit kedua, naik lagi ke dimensi 5 di langit ketiga, diteruskan ke dimensi 6 di langit ke empat, berlanjut ke dimensi 7 di langit ke lima, menembus dimensi 8 di langit ke enam, dan akhirnya berhenti di ruang berdimensi 9 di langit ke tujuh. Waktu itu Rasulullah SAW sampai di suatu tempat tertinggi di alam semesta yang disebut sebagai Sidratul Muntaha. Itulah puncak perjalanan beliau menembus dimensi langit.

Semakin naik posisi dimensi Nabi, beliau memiliki sudut pandang yang semakin luas dan menakjubkan. Ketakjuban Rasulullah SAW itu juga disebabkan oleh begitu dahsyatnya perbedaan kualitas di setiap langit. Perbandingan kualitas- termasuk juga kuantitasnya- adalah tidak berhingga untuk setiap kenaikan dimensi langit. Sehingga sungguh sangatlah dahsyat perasaan yang beliau rasakan itu, saat beliau mencapai puncak langit ke tujuh yang disebut sebagai Sidratul Muntaha.

Di puncak langit itu Rasulullah SAW benar-benar terpesona memandangi ciptaan Allah yang luar biasa dahsyatnya. Beliau diberi kesempatan yang tiada bandingnya oleh Allah untuk menyaksikan ciptaaan Yang Maha Perkasa dan Maha Berilmu dari suatu tempat yang tidak ada seorang manusia pun pernah melihat alam semesta. Sampai di sini, Rasulullah SAW bersimpuh; di hadapan Allah Yang Maha Agung dan Maha Perkasa. Beliau bersimpuh dalam keprasahan yang sangat dalam. Kepasrahan total setelah memahami dan menyaksikan sendiri betapa Agungnya Allah, Sang Maha Perkasa. Seluruh kesadaran beliau mengembang ke seluruh alam semesta yang tujuh, larut dalam Kebesaran dan Keagungan Allah Azza wajalla.






1 Komentar :

facebook of sex. com
25 November 2017 - 16:40:18 WIB

Great overcome ! I would like to apprentice whilst you
amend your internet site, how can we subscribe when it comes to the weblog site?

The membership aided me personally a acceptable package.
I experienced started very small little acquainted within this their broadcast provided bright clear idea
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)