kamis, 11 Juni 2013 - 22:46:50 WIB
Televisi dan Hiperpolitik
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 388247 kali

Perkembangan social politik di dalam masyarakat-bangsa ini tidak bisa dipisahkan dari bagaimana semuanya direpresentasikan di dalam berbagai media komunikasi, khususnya televisi. Dunia social politik dan dunia televisi adalah dua dunia yang saling berhubungan di dalam masyarakat informasi dewasa ini meskipun ada relasi yang problematic di antara keduanya.

Televisi bukanlah sebuah ruang kosong yang hampa makna, tetapi merupakan sederet penanda (signifier) yang membawa bersamanya sederet penanda atau makna (signifieds), menyangkut gaya hidup, karakter manusia, nilai kepemimpinan, hingga wajah realitas social-politik masyarakat bangsa ini. Ada makna politik di dunia realitas, tetapi ada makna politik di dunia televisi, yang keduanya saling berkaitan.

Televisi adalah lukisan politik Indonesia di ruang keluarga sehingga makna keindonesiaan itu sendiri bisa dibaca secara lengkap (meskipun ironis) di dalam program-program televisi. Televisi dapat dilukiskan sebagai sebuah pemadatan atau peledakan ke arah dalam realitas keindonesiaan secara keseluruhan sehingga menonton televisi berarti menonton totalitas lukisan wajah Indonesia itu sendiri the implosion of meaning.

Televisi merupakan sebuah ruang elektronik (electronic space) yang didalamnya berlangsung berbagai bentuk eksperimen politik pada tataran citraan dan semiotic, yang menciptakan semacam politik citraan (politics of images) dan semiotika politik (political semiotics), yang digerakan oleh apa yang disebut teknologi politik pencitraan (politics of imagology).

Akan tetapi, politik yang hidup di dalam ruang televisi tidak dengan sendirinya melukiskan realitas politik, dalam pengertian politik nyata (real politics). Politik informasi dan pencitraan politik-dalam bentuknya sekarang-justru telah menggiring politik pada wujud hiper-realitasnya, yaitu wujud simulasinya dalam media, yang berbeda bahkan dapat terputus sama sekali dari realitas politik di ruang nyata- the hyper reality of politics.

Jean Baudrillard, didalam In the Shadow of the Silent Majorities (1983), mengemukakan bahwa media (seperti televisi) memproduksi semacam realitas kedua, yang mempunyai logikanya sendiri, yang pada titik tertentu dapat menetralisir bahkan membunuh realitas social politik di dunia nyata, yang menggiring pada kematian social dan politik. Yang ada hanya simulasi social dan politik.

Dalam politik, yang kemudian terbentuk adalah semacam hiperpolitik, yaitu politik yang hidup dalam wujud simulasinya di dalam ruang-ruang citraan (khususnya televisi), yang tidak lagi merepresentasikan politik yang sesungguhnya di dunia nyata. Artinya, ada keterputusan antara realitas politik di dalam media, realitas politik di dunia nyata dan realitas masyarakat sendiri-politics of discontinuity.

Hiperpolitik adalah lukisan krisis yang tanpa sense of crisis. Inilah wajah santai, penuh senyum, dan tanpa dosa para penyelenggara Negara dan politikus di dalam acara berita televisi. Mereka adalah penanda murni, yaitu penanda yang hidup di dunia sendiri yang terputus dari masyarakat. DPR adalah penanda murni yang terputus dari masyarakat yang direprentasikannya. Bahkan, demonstrasi tertentu adalah juga penanda murni, yang tidak lagi menandai aspirasi, hasrat dan ideal-ideal masyarakat.

Hiperpolitik adalah lukisan transisi tanpa panduan kepemimpinan. Televisi menjadi semacam ruang tunggu untuk para pemimpin pada periode waktu tertentu atau untuk berbagai peristiwa penting tertentu, yang ditunggu keluarga-keluarga Indonesia di depan layar. Akan tetapi, ironisnya, keluarga-keluarga itu tak pernah menunggu pidato para pemimpin di televisi. Tampil atau tidaknya mereka di tengah berbagai masalah penting, seperti kenaikan harga gula, tak penting bagi masyarakat. Mereka lebih tertarik menunggu panduan lain, seperti Inul.

Hiperpolitik adalah lukisan berbaurnya kekerasan dan eforia demokrasi, disebabkan politik yang tanpa keterampilan politik. Begitu banyak acara talkshow tentang demokratisasi di televisi; ironisnya, di tempat lain, ruang-ruang berita justru dipadati oleh berbagai bentuk kekerasan di berbagai ruang public : di jalan, DPR, sekolah, dan lain-lain. Euphoria demokrasi yang tidak disertai mutu, kualitas, dan ketrampilan politik telah menggiring pada situasi kebuntuan, yang melahirkan berbagai bentuk kekerasan.

Hiperpolitik adalah lukisan masyarakat konsumtif tanpa etika. Contohnya adalah program sepak bola. Bila Eropa mampu menghasilkan dunia sepakbola yang produktif dan berkualitas, organisasi sepakbola yang berwibawa, serta dunia sport entertainment yang menarik; di Indonesia semuanya tidak muncul. Yang hingar-bingar cuma kuisnya, dengan hadiah besar untuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermutu. Inilah analogi ruang sepakbola politik kita, yang penuh hingar binger citra, kampanye, talkshow dan perang simbolik, tetapi tidak pernah menghasilkan dunia politik yang cerdas, kreatif, produktif, berkualitas, beretika, dan berada.

Hiperpolitik adalah lukisan tentang hancurnya penegakan hokum, yang diambil alih oleh simulacrum hokum. Iring-iringan kasus hokum tak pernah melahirkan pahlawan, disebabkan tak ada pemecahan masalah hokum dan penemuan yang bersalah secara meyakinkan. Ruang-ruang hokum dipadati oleh penampilan pengadilan pura-pura, kesaksian semu, dan keadilan palsu (pseudo justice).

Hiperpolitik adalah lukisan tentang hilangnya ruang civil society, yang dilindas oleh mesin-mesin ekonomi dan kekuasaan yang saling bertempur tanpa malu memperebutkan ruang-ruang kekuasaan dan territorialnya. Program-program televisi lebih dikuasai oleh mesin-mesin ekonomi dan kekuasaan ini, lewat iklan-iklan komersial atau kampanye kekuasaan tanpa interupsi, yang tidak menyisakan lagi ruang untuk public.

Hiperpolitik adalah lukisan reformasi yang diasingkan dan politik yang terasing secara semiotic (political alienation). Politik atau reformasi hanya hidup secara semiotic di dalam berita dan talkshow, tetapi tak pernah disambut di dalam iklan dan sinetron. Artinya, politik hanya hidup dalam keangkuhannya di dalam ruang semiotika politik, tetapi mengalami kematian di dalam ruang-ruang public lainnya. Ada iklan kemerdekaan atau hari-hari besar lainnya dengan biaya besar, tetapi tak ada iklan reformasi, kalaupun ada, malu-malu. Reformasi seperti masih asing.

Hiperpolitik adalah lukisan social-politik yang penuh kekerasan simbolik (symbolic violence). Berita tentang kekerasan dan horror (pembunuhan, perampokan, perkosaan, perang, kanibalisme) hadir seenaknya di layar-layar televisi, tanpa pernah mengingat waktu tayang dan segmentasi psikologis penonton. Kekerasan dan horror itu kini menjadi sebuah komoditas tontonan utama televisi. Televisi lalu terjerat di dalam jaring kepuasan puncak komunikasi, tanpa peduli dengan isi dan efek komunikasi itu sendiri.

Pembiakan budaya layar (screen culture) di dalam masyarakat kita telah menggiring dunia sosil-politik ke arah sebuah orde simulasi realitas. Televisi adalah lukisan dunia realitas social-politik kita yang penuh distorsi, yang menggunakan pemahaman Plato mengenai realitas, ia bukan salinan realitas, melainkan simulacrum realitas, yaitu salinan realitas yang didistorsi.

Lukisan realitas yang sarat distorsi tersebut pada tingkat ekstrim benar-benar tanggal dari dunia realitas itu sendiri. Ia lalu menemukan logikanya sendiri, yaitu logika pembiakan citra (multiplicity of images), yang didalamnya produksi citra telah terputus dari realitas social politik itu sendiri.

Keterpurukan citra dari realitas politik, politikus dari massanya, wakil rakyat dari rakyatnya, demonstran dari masyarakatnya merupakan salah satu factor penyebab utama terjadinya berbagai kemacetan total pada seluruh system dan kebuntuan total segala bentuk perjuangan bagi perubahan, pembaharuan, dan reformasi, yang semuanya dapat dilihat pada layar televisi.

Televisi akhirnya menjadi sebuah ruang pelarian dari berbagai kemacetan dan kebuntuan tersebut. Fenomena Inul misalnya adalah puncak simbolik dari kemacetan system dan kebuntuan perjuangan tersebut. Tidak mengherankan bila Inul menjelma menjadi sebuah magnet raksasa dan strange atrractor yang menyedot seluruh perhatian, kesadaran, bahasa, metafora; jargon politik, trik pemasaran, manajemen usaha, strategi media, aktivitas ekonomi, kegiatan LSM, HAM; penelitian, diskusi ilmiah, bahkan perdebatan akademis di atas tubuh bangsa ini, yang telah menggilas habis ruang-ruang real politics.

Program-program konsumtif tentang seks, tubuh, mistik, dan gaya hidup merupakan wujud pelarian lainya dari kegagalan politik dan parahnya keterampilan politik, yang tidak mampu menghasilkan dunia politik yang produktif, cerdas, dinamis, kreatif dan beradab. Karena tak kuasa merealisasikan dirinya di dalam ruang real politik seperti diatas, dunia politik kita kini justru terserap ke dalam medan magnet politik seks, politik gaya hidup, politik mistik dan politik pantat yang menguntungkan tersebut.

Sumber : Opera Sabun SBY; Garin Nugroho; Hal: 61-67






1 Komentar :

เรือ ยาง ตก ปลา
25 November 2017 - 17:42:20 WIB

But if you already have the most coveted items of paper
with you as well certain situation, all you will have to
do is get into the venue and also have a thrilling game to watch.
And Seattle Seahawks tickets are probably the
available products online which you can buy handily.
Pros - One in the nice aspects from the Intex Seayawk
400 inflatable boat is always that everything which is needed
too access it the river quicfkly is included.
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)