Sabtu, 22 Juni 2013 - 21:46:50 WIB
Sang Semesta Cinta
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 2323 kali

Biasanya, cinta berawal dari sebuah pengamatan, sebuah pengenalan, dan sebuah pemahaman. Cinta tidak akan pernah lahir tanpa sebuah pengetahuan tentang siapa yang kita cintai itu. Cinta selalu membawa pada pengetahuan akan diri, baik diri kita atau diri yang kita cintai.

Lalu, bila kita ingin mengenal yang kita cintai, kita pasti ingin dan merasa wajib untuk melihatnya. Seperti halnya, saat ayah ingin mempersunting ibu kita. Ayah melakukan taaruf dulu untuk mengetahui siapa sebenarnya ibu itu. Kemudian, ayah diizinkan untuk melihat ibu sejenak. Itu adalah proses mengenal manusia, tapi bagaimana jika kita ingin mencintai Allah? Apakah kita juga harus dan bisa melihatnya? Padahal, kita bisa melihat-Nya melalui ciptaan-ciptaan Allah SWT.

Keberadaan dan kekuasaan Allah dapat kita saksikan dengan memikirkan dan menyaksikan penciptaan semesta, mengamati kelakuan matahari, bagaimana bulan dan bintang bercanda di malam hari, bagaimana langit tersenyum saat senja dating, gunung mengeluarkan larvanya dengan batuknya, lautan menjadi ganas karena ulah manusia, serta bagaimana perilaku makhluk lainnya. Bukti keberadaan Allah lainnya adalah dengan melihat segala yang berkaitan dengan diri kita sendiri.

Rasa syukur seharusnya selalu hadir dalam diri kita karena menyadari segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT, sehingga akan menambah kecintaan kita kepada-Nya. Cinta itu yang membuat jiwa kita haus akan kerinduan kepada-Nya. Kenapa kita merasakan kehadiran-Nya yang begitu dekat? Karena Allah pasti akan membalas cinta kita juga, mencintai hamba-hamba ciptaan-Nya yang sungguh-sungguh mencintai dan dicintai karena-Nya.

Kecintaan kita kepada Allah itu sangat agung. Semesta cinta karena-Nya akan membuat kita bersujud di atas madah-madah sajadah cinta untuk bertasbih dengan sangat indah, meski segenap nafas mulai berkurang. Allah akan mencintai kita dan seluruh penghuni istana cinta. Allahu Akbar!

Sungguh, cinta yang hakiki itu hanya untuk-Nya dan milik-Nya semata. Cinta itu adalah cinta tertinggi di atas cinta untuk harta benda, kepada sesame manusia, kepada makhluk lain, dan alam semesta. Cinta kepada dan karena Allah adalah tingkatan cinta yang paling agung. Cinta ini adalah cinta di atas segala cinta yang akan membawa pada keridhaan, kenikmatan, dan kemuliaan hidup. Pada akhirnya, cinta ini akan memuliakan yang kita cintai.

Ingin rasanya meneguk air zam-zam cinta agar bibir ini sesuci embun pagi dan selalu menggunakannya untuk melafadzkan tasbih-tasbih cinta kepada-Nya.

Cintailah cintamu karena kecintaan kita kepada Allah. Bawalah cintamu terbang ke atas singgasana istana cinta untuk menjemput cinta Allah. Kemudian istirahatlah dengan cintamu setelah kau dapatkan persinggahan cinta di sisi cinta-Nya. Semangatlah untuk menggapai cintamu!

Sumber : Cinta dalam Kaidah Fisika, Muhammad Akrom, hal : 178-183






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)