Rabu, 26 Juni 2013 - 21:46:50 WIB
Layar Teather Global
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 4131 kali

Menurut Jeremy Rifkin, Presiden Foundation on Economic Trends, Washington DC, dalam bukunya : The Age of Access : The New Culture of Hypercapitalism, kehidupan manusia kini benar-benar telah terkomodifikasi, menjadi sebatas komoditas atau barang dagangan, di mana antara komunikasi, komuni, dan komersial pun menjadi tak terbedakan (Ibrahim, 2001).

Telah terjadi metamorphosis dari produksi industrial ke kapitalisme budaya yang menyebabkan pergeseran mendasar dari ruang budaya (cultural sphere) ke ruang komersial (commercial sphere), di mana semua pengalaman hidup tak lebih seperti halnya pasar komersial. Perusahaan-perusahaan media trans-nasional tengah menambang sumber daya kebudayaan local di setiap bagian dunia, dan mengemasnya kembali menjadi komoditas budaya dan hiburan global.

Dominasi barat kian terasa dan begitu mencengkeram, tidak hanya dalam bidang ekonomi melainkan juga budaya. Budaya, nilai, dan gaya hidup baru, kini begitu mudah merembes masuk lewat berbagai cara, lewat perdagangan dan ekonomi, terutama sebagai dampak globalisasi media.

Dalam teater global ini semua orang menjadi pemain dalam drama kehidupan global yang membuat dunia menciut, jarak mengerut, ruang dan waktu lenyap. Sebuah dunia global tanpa batas, ujar Kenichi Ohmae dalam The Borderless World. Lenyapnya tapal batas itu begitu terasa ketika lalulintas barang, informasi dan manusia antartempat, antarnegara, dan antarbenua begitu cepat. Bisnis global, hiburan global, informasi global, manusia global, dan budaya global telah menjadi keniscayaan di tengah arus globalisasi ini.

Siapakah yang sesungguhnya menjadi penulis scenario, sutradara dan produser serta pemain utama di belakang layar teater global ini? Para pelaku utamanya tak lain adalah kapitalisme global, yang bermain di balik kedigdayaan perusahaan-perusahaan transnasional, yang telah menuliskan skenarionya dan sekaligus produsernya. Merekalah yang mengkonstruksi kebutuhan, mendiktekan selera atau gaya hidup, dan menentukan desain kebudayaan global yang cenderung serba seragam homogen. Bahkan, sering kali ditiru secara membabi buta oleh para konsumen budaya yaitu masyarakat Dunia Ketiga. Cengkeraman gurita kapitalisme global ini kian menghujam lewat media komunikasi terutama televisi dan internet.

Kapitalisme global telah memoles dunia menjadi seperti sebuah panggung kehidupan, tempat segala hal menjadi tak lebih dari seonggok komoditi atau mata dagangan. Ketika SEMUA hal menjadi KOMODITI, tak hanya CINTA, tak pula KESETIAAN, tidak juga NILAI-NILAI, semua aspek kehidupan TERSERAP ke dalam PEMUJAAN KEBENDAAN, yang mengembangbiakan ideology MATERIALISM. Inilah paham yang menjadikan criteria kehidupan berdasarkan ukuran kebendaan atau kepemilikan, bukan KEKAYAAN ROHANI dan KESEDERHANAAN seperti yang diajarkan oleh agama-agama langit.

Sumber : Merajut Kembali Keindonesiaan Kita, HB X, hal : 50-51






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)