Selasa, 13 Agustus 2013 - 21:46:50 WIB
Marketing Ala Jepang
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 600565 kali

Bukanlah hal yang mengejutkan bila perusahaan-perusahaan Jepang ternyata banyak yang tidak memiliki manajer marketing atau marketing professional. Apalagi departemen marketing. Kenapa? Karena perusahaan-perusahaan Jepang percaya betul bahwa marketing itu bukan melulu pekerjaan orang-orang spesialis marketing, tapi setiap orang yang ada di dalam perusahaan.

Contoh paling baik adalah market research. Perusahaan-perusahaan Jepang memang terkenal dengan pendekataan intuisional dalam meluncurkan produk. Tapi bagaimana hal ini bisa jalan dengan baik? Intuisi itu bisa berjalan dengan baik karena dilakukan oleh seluruh lapisan perusahaan. Karena perusahaan-perusahaan Jepang selalu meminta semua lapisan yang ada di dalam perusahaan untuk untuk bicara dengan pelanggannya, secara aktif mendengarkan mereka dan berpikir kreatif mengenai apa yang dimaui pelanggan di masa depan. Tentu saja hal terakhir ini bisa berjalan kalau mereka itu tahu benar segala info tentang pelanggannya. Karena itulah, setiap lapis perusahaan akan berusaha mencari segala informasi yang berkaitan dengan target market-nya.

Begitu mereka sudah mendapatkan what-nya, lalu mulailah mereka meluncurkan produknya, dan tidak langsung dilakukan secara besar-besaran. Karena perusahaan-perusahaan Jepang yang menginginkan produk-produknya itu bisa membuat pelanggannya menjadi lebih bagus akan berusaha mendapatkan umpan balik dari pelanggannya. Alias mencari Why dari preferensi mereka atas suatu produk. Setelah ketemu Why-nya, maka perusahaan-perusahaan Jepang itu mencari cara bagaimana How menghasilkan produk yang sesuai dengan preferensi pelanggan.

Proses what-why-how itu di perusahaan-perusahaan Jepang dikenal sebagai trail and error marketing. Mengapa? Sebab sebagai perusahaan yang biasa mengandalkan pada intuisi, mereka itu tetap merasa perlu memastikan lebih dulu bahwa intuisinya benar dan baru kemudian menjualnya secara besar-besaran. Ternyata banyak perusahaan Jepang yang membuat me-too product itu bisa sukses karena memakai pendekatan itu di samping churning strategy.

Selain menjadikan semua orang sebagai marketer dan menerapkan intuisi dan trial and error marketing, perusahaan-perusahaan Jepang paham bahwa marketing mix itu merupakan creating tactic. Karena itu selain berusaha membuat produk sebaik mungkin, mereka betul-betul memikirkan price, promotion, place-nya. Price diusahakan se-affordable mungkin. Promosi lebih digunakan untuk membangun image dan menggugah perasaan. Sedangkan place dipandang lebih sebagai upaya mendekatkan diri kepada pelanggannya dari pada sekedar untuk mendistribusikan produk.

Praktek marketing yang dijalankan oleh semua lapisan di perusahaan-perusahaan Jepang, yang dengan tidak henti-hentinya, memutar loop what-why-how, telah terbukti membuat produk-produk Jepang berhasils memenangkan market, minds dan heart-share. Karena itulah, kalau ingin sukses seperti perusahaan-perusahaan Jepang, mulailah eat, sleep, and dream with marketing.

Sumber : The Japanese Way of Marketing, JK Johansson & I. Nonaka, Pengantar Hermawan KJ.






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)