Minggu, 02 Maret 2014 - 00:00:13 WIB
Pentingnya Peta Rupabumi
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 93952 kali

Topografi atau peta rupabumi untuk perencanaan biasanya menggunakan peta standar yaitu peta rupabumi skala 1:25.000. citra satelit seperti Landsat, SPOT, Ikonos atau Quickbird dengan skala yang lebih detail dapat dipakai untuk melengkapi peta dasar yang ada.

Peta rupabumi adalah peta dasar yang umum digunakan untuk menentukan :
1. Persen lereng/kelas lereng
2. Arah lereng
3. Ketinggian

Peta kelerengan dapat dihasilkan dengan cara perhitungan garis kontur dengan menggunakan rumus tertentu untuk mengelompokan kelas-kelas lereng tertentu. Persentase kelas lereng umumnya dipakai oleh para planers di dalam perencanaan lahan. Peta kelerengan tidak saja mengelompokan bentu-bentuk bentang alam, akan tetapi dapat untuk mengetahui informasi yang berkaitan dengan arah lereng yang berpengaruh terhadap :

1. Iklim mikro
2. Hidrologi
3. Jenis vegetasi
4. Kestabilan tanah

Berikut ini disajikan karakteristik kelas lereng terhadap kesesuaian lahan

Kelas lereng 0-5%
Lahan bertopografi datar, sangat sesuai untuk dikembangkan menjadi areal pemukiman dan pertanian. Sebagian areal berpotensi terhadap genangan banjir dan sebagian berpotensi terhadap drainase yang buruk

Kelas lereng 5-15%
Lahan bertopografi landai, kurang sesuai untuk pembangunan lapangan terbang atau areal industry berat, irigasi yang terbatas namun baik untuk pengembangan pertanian tanaman keras. Lahan yang sesuai untuk dikembangkan menjadi areal pemukiman, perkantoran, dan areal bisnis dengan drainase baik.

Kelas lereng 15-30%
Lahan bertopografi bergelombang, kurang sesuai untuk areal pertanian karena masalah erosi, namun demikian lahan dengan kelerengan hingga 20% dapat dimanfaatkan untuk areal pertanian dengan jenis tanaman tertentu. Lahan ini juga baik untuk pengembangan industry ringan, komplek perumahan, dan untuk fasilitas rekreasi.

Kelas lereng 30-50%
Lahan bertopografi terjal, cocok untuk dikembangkan menjadi tempat tinggal secara kluster, pariwisata dengan intensitas rendah dan lahan yang cocok untuk hutan dan padang rumput.

Kelas lereng > 50%
Lahan bertopografi sangat terjal, tempat yang sesuai untuk kehidupan satwa liar dan tanaman hutan lindung serta padang rumput yang terbatas, tidak sesuai untuk areal real estate karena topografi yang terlalu terjal.

(Sumber : Geologi Untuk Perencanaan, Djauhari Noor, Penerbit : Graha Ilmu, Hal : 285-287)




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)