Selasa, 09 Desember 2014 - 10:00:13 WIB
Kritik Terhadap Media
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 94203 kali

Selama bertahun-tahun, inti kritik selalu seperti berikut ini, meskipun kalimatnya bisa bermacam-macam :

Media menggunakan kekuatan besarnya untuk mempromosikan kepentingan pemiliknya saja. Mereka bersiteguh pada pandangan-pandangan politik dan ekonominya sendiri. Mereka mengabaikan atau bahkan memberangus pendapat lain
Media umumnya merupakan alat kalangan bisnis besar. Dengan iklan, mereka acapkali mengendalikan kebijakan dan isi media.
Media mengganjal perubahan social, dan mempertahankan status quo.
Media, dalam melakukan pemberitaan cenderung menonjolkan aspek sensasinya saja ketimbang esensinya. Yang disediakannya hanya hiburan semu yang jauh dari unsure artistic.
Media membahayakan moral public.
Media tanpa alasan jelas sering menyerang privasi dan melecehkan martabat individu. Banyak orang gagal memperoleh proses peradilan yang adil karena publisitas oleh media sudah menjatuhkannya.
Media dikendalikan hanya oleh kalangan berada, kalangan bisnis, sehingga pendatang baru akan sulit merintis usaha komunikasi baru tanpa restu mereka. Lebih jauh, control itu ada pada sedikit tangan penuh kuasa. Ini jelas mengancam prinsip pasar informasi dan gagasan yang bebas dan terbuka.

Kritik di atas masih bersifat umum. Dalam beberapa tahun belakangan ini, kritik itu kian terfokus seperti berikut ini :

Media telah ikut menjadikan para pembaca, pendengar dan pemirsa hanya sebagai konsumen. Peran dan kedudukan sebagai konsumen itu saja yang dipentingkan.
Media telah menjadikan masyarakat Amerika hanya sebagai penonton, bukan pelaku.
Media telah menonjolkan gaya hidup sukses secara kilat, sehingga generasi muda enggan bekerja keras, dan demokrasi yang berproses secara lambat itu dianggap tidak diperlukan lagi.
Media memberitakan lebih banyak daripada kejadian yang sebenarnya.
Media sering kali tidak akurat.

Masalahnya, tidak mudah membuktikan kebenaran atau kesalahan kritik-kritik tersebut. Misalnya, apakah para pembaca Koran terkemuka seperti Christian Science Monitor atau The New York Times berpendapat bahwa isi Koran ini lebih menonjolkan sensasi daripada esensi? Apakah tabloid New Yorker benar-benar membahayakan moral public? Apakah film-film Mike Nichols memang mempertahankan status quo? Intinya adalah kita tidak bisa menyamaratakan semua media. Jika kita menganggap media sebagai satu kesatuan yang sama, kita sudah salah dari awal. Jenis (film, Koran, media siaran) dan jumlah media begitu banyak, demikian pula kinerja dan mutunya sehingga penyamarataan hanya akan membuahkan pemahaman yang keliru.

Sumber : Media Massa & Masyarakat Modern, Peterson dkk., Kencana Prenada Media Group, hal : 322-324






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)