Sabtu, 27 Desember 2014 - 10:00:13 WIB
Paspor dan souvenir
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 130753 kali

Wawancara dengan penulis buku Menyusuri Lorong-lorong Dunia, Sigit Susanto (SS).

PEA : Diantara sekian banyak negara yang telah anda jelajahi, negara mana yang paling berkesan dan kenapa?

SS : Untukku secara politik, aku sangat terkesan dengan Kuba. Di sana aku kagum dengan solidaritas politik dan kesadaran sosial kaum proletar. Tentu saja rakyat Kuba miskin, bahkan bahan makanan dirasionalisasi atau dibatasi oleh pemerintah. Juga embargo dari USA tetap berlaku. Dua efek tersebut membuat warga Kuba hidup serba terbatas. Justru dari keterbatasan itu muncul kreasi-kreasi seni yang menonjol. Tak pernah kusaksikan film-film di Eropa dari negara berkembang sebanyak dari Kuba.

Bagiku, sebagai orang Indonesia lebih mudah meneropong negeri sosialis Kuba, ketimbang di Vietnam, China, apalagi di Rusia. Fidel Castro konsisten mempertahankan idealisme sejak era revolusi Kuba 53 tahun lalu. Di Rusia, China, Vietnam kapitalistiknya tampak di permukaan.

Secara budaya aku suka Kamboja. Seorang kawan pejalan dari Swiss, Reto Meili yang menulis buku Auf dem Landweg nach Asien (Lewat jalan darat ke Asia) menyebut, beberapa negara yang ia kunjungi dan semakin mendekati Indonesia, budayanya mirip dengan Indonesia.

Bagiku secara geografis, Thailand lebih dekat dengan Indonesia, ketimbang Kamboja. Namun kesanku, orang-orang Khmer di Kamboja mirip orang-orang Jawa. Gestur, ritme jalan, peradaban. Untuk melihat Indonesia pra-Islam, Kambojalah kuanggap bisa sebagai contoh. Mengingat sebelum Kamboja dan Indonesia termasuki Buddhisme dan Hinduisme, sama-sama penduduknya menganut animisme.

Menurut Claudia istriku, ia paling suka Venesia di Italia. Alasannya, karena ia mencintai menyaksikan bangunan-bangunan kuno dan air. Di Venesia kombinasi bangunan kuno dan air itu sangat berhimpitan.

PEA : Apa pengalaman terburuk anda di dalam menjelajahi berbagai negeri orang?

SS : Paspor dan souvenir. Pada umumnya aku mengalami banyak tindak diskriminasi, terutama oleh polisi imigrasi di perbatasan negeri Eropa. Sebagai pemegang paspor hijau simbol burung garuda, sungguh tak menguntungkan.

Berbeda tentunya bagi para diplomat Indonesia yang bepergian keliling dunia. Nyaris mereka punya jalur istimewa tersendiri. Orang sipil seperti aku punya catatan pahit.

Sebab aku bandingkan dengan paspor istriku yang orang Swiss. Proses pemeriksaan baik di bandara, pelabuhan, perbatasan darat, cenderung cepat dan lancar. Sebab itu untuk antisipasi hal itu, istriku dalam perjalanan selalu membawa fotokopian surat nikah di Swiss berbahasa Jerman. Kan tidak lucu seperti kejadian di Gibraltar, istriku boleh masuk negeri itu, aku harus menunggu di perbatasan wilayah Spanyol.

Sesama pelancong dalam rombongan turis Swiss, kadang ada yang mengira aku ini souvenir yang dibeli oleh Claudia, lalu dibawa ke Swiss. Beberapa pelancong tua Swiss yang konservatif pemikirannya seperti itu kadang. Tidak disalahkan, sebab sering ada tayangan di TV tentang para gigolo di Kenya atau prostitusi di Thailand dan Brasil diangkut para turis ke negerinya di Eropa.

Sumber : Menyusuri Lorong-lorong Dunia Jilid 3, Sigit Susanto, Insist Press, hal : iv-vi






1 Komentar :

Eugene
25 November 2017 - 17:05:04 WIB

Hello my family member! I wish to say that this post is amazing, nice written and come with almost all important infos.
I would like to see more posts like this .
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)